Selasa, 01 April 2014

AL ‘JABBAR (Yang Maha Berkehendak)



Kata Al ‘JABBAR diulang sebanyak 10 kali dalam Al Qur’an. Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Memaksa, yang kehendakNYA tidak dapat diingkari oleh siapapun. 
Sifat ini ditegaskan Allah dalam firmanNYA :

“Dialah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Memelihara keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan... “. (QS. Surah Al Hasyr 23)

Allah berkuasa menjadikan orang-orang yang lemah, miskin, teraniaya, berduka dan yang sakit, menjadi semakin sengsara. Sebaliknya, Dia juga kuasa menberikan kekayaan kepada orang-orang miskin, membebaskan orang-orang yang teraniaya, menyembuhkan orang sakit, dan sebagainya.

Imam Al Ghazali berkata, “Semua kehendakNYA terhadap individu makhlukNYA, berlaku tanpa terhalangi oleh kehendak yang lain. Tak ada seorangpun dapat terlepas dari kekuasaanNYA. Tanpa pertolonganNYA semua kekuatan menjadi tak berarti”.

Dzat Allah tak bisa terjangkau oleh akal pikiran dan penginderaan semua makhluk. Cahaya keagunganNYA tidak dapat digapai oleh pengetahuan semua manusia. Dia adalah Yang Maha Tinggi sehingga memaksa yang rendah untuk tunduk kepada yang dikendakiNYA. Kalaupun ada yang berusaha menjangkau ketinggianNNYA, maka Dia akan memaksanya sehingga semua bertekuk di hadapanNYA.

“Dan tunduklah semua muka dengan berendah diri kepada Tuhan Yang Maha Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus makhlukNYA. Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman”.
(QS Surah Thaha : 111)

“Sesungguhnya urusanNYA, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia “.
(QS Surah Yasin : 82)

Jika sifat ini dikaitkan pada makhluk, maka akan memunculkan makna yang berkonotasi negatif, jelek, dan tercela. Manusia disebut jabbar jika berlagak congkak, sewenang-wenang, tidak rendah hati dan tidak mau tunduk pada siapapun. Allah SWT mencela makhlukNYA yang angkuh dan sombong. Sebab hanya Dialah yang pantas meyombongkan diri. 

Dalam Hadist Qudsi :
“Kemuliaan adalah pakaian-KU, keangkuhan adalah selendang-KU, siapa yang mencoba merebutnya dari-KU akan KU-siksa”.
(HR. Muslim)


Karena Allah Al Jabbar, maka tiada lain bagi manusia untuk selalu mentaati segala kehendakNYA. Allah memang berkehendak atas segala sesuatu yang tidak mungkin bisa ditolerir oleh seluruh makhluk. Sebab Allah-lah yang menciptakan seluruh makhluk, segala alam beserta isinya. Dengan kehendakNYA pula, suatu saat nanti Dia akan meluluhlantakkan jagat raya ini.

Pesan sosial dari Allah sebagai dzat yang kehendakNYA tidak bisa diingkari, diantaranya yaitu :
a. Menjadi Teladan dalam Kebaikan
Seorang mu’min yang memahami makna sifat ini akan berusaha menularkan perilaku positif kepada lingkungannya. Ia tidak hanya melakukan kebaikan, tetapi juga mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Dengan demikian, ia memiliki dan menunjukkan keteladanan yang tidak diingkari oleh dirinya sendiri. Dia termasuk pelopor dalam kebaikan.

b. Menggunakan Kewenangan Secara Benar (Amanah)
Amanah, merupakan kebenaran yang tidak boleh diingkari oleh siapapun. Menggunakan kewenangan secara benar, harus dilakukan oleh siapapun tanpa memandang tinggi dan rendahnya jabatan/kedudukan yang dimilikinya.

Sumber landasan sikap dan mental, diantaranya :
• Tegar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup, kemiskinan harta, rendahnya kedudukan, disikapi dengan kesabaran dan perilaku konstruktif lainnya.
• Kokoh pendirian, tidak mudah tergoda oleh iming-iming jangka pendek yang dapat menjerumuskan diri dalam kemaksiatan.
• Mampu menghadapi dan mengatasi kondisi yang kacau menjadi tenang, pertengkaran menjadi perdamaian.
• Mampu menjalankan tugas, tanggung jawab dan kewenangannya secara profesional dan amanah.


Hudzaifah Ibnul Yaman Ra pernah mengatakan , “Di antara tanda-tanda kiamat sudah dekat adalah adanya :
- Para pemimpin yang zhalim,
- Para ulama yang fasik,
- Dan orang yang dipercaya mulai berkhianat, maksudnya mereka yang diserahi suatu perkerjaan akan tetapi berkhianat. Atau mereka bisa dipercaya tetapi bekerja untuk para pengkhianat.

Semoga bila pada saat ini kita ditakdirkan mendapat jabatan/kedudukan yang tinggi, jangan sampai menyalahgunakan wewenang yang dapat menyengsarakan orang lain. Amien..


copas doang dari file

Asma’ul Husna for Success in Business & Life
Bandung, 09 Februari 2010

Senin, 31 Maret 2014

TERKABULNYA DOA




Oleh : K.H. Athian Ali M. Da'i, MA

"Wa idzaa sa-alaka 'ibaadii 'annii fa innii qariibun ujiibu da'watad daa'i idzaa da'aani falyastajiibuu Hi wal yu'minuu bii la'alfahum yarsyuduun" 

(Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, sebab itu hendaklah mereka memohon perkenan kepada-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka memperoleh petunjuk) (QS. Al Baqarah; 2 :186)

Setiap mu'min seharusnya meyakini, bahwa segala sesuatu dalam hidup ini hanya akan terjadi dengan izin Allah SWT (Q.S. Al Baqarah; 2 : 255). Betapapun optimalnya usaha seseorang selama Allah SWT belum menyatakan "Kun"(jadi) maka sesuatu tidak akan pernah terjadi, karena segala sesuatu hanya akan terjadi dengan "Kun fa yakuun" Allah SWT (Q.S. Yaasiin; 36 : 82). Setiap mu'min tentu sangat meyakini bahwa manusia adalah makhluk yang, "laa haula wa laa quwwata illaa billaahi" (Tiada daya-upaya dan kekuatan kecuali dengan Allah).

Manusia tidaklah pernah sekalipun dapat menentukan hasil. Karenanya, apa yang kita lakukan selama menjalani kehidupan ini hanyalah berusaha dan berupaya. Itu pun dengan memanfaatkan potensi yang telah Allah limpahkan kepada kita. Kita manfaatkan potensi mata untuk melihat, kaki untuk melangkah, akal untuk berfikir, tangan untuk memegang dan memanfaatkan potensi-potensi lain yang notabene potensi-potensi tersebut sewaktu-waktu bisa dicabut kembalioleh Allah.

Dengan keyakinan seperti ini, maka berusaha dan berdo'a adalah "dua" hal yang tidak mungkin bisa terpisahkan dari ranah kehidupan kita. Namun demikian, terkadang masih pula muncul pertanyaan: "Sudah lama berusaha dan berdoa, kenapa tidak/belum juga dikabul? Padahal, Allah SWT menjanjikan: "Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdo'a kepada-Ku" (QS, Al Baqarah,2:186). Adakah kemungkinan Allah ingkar janji? 
Jawabnya: Mustahil Allah mengingkari janji-Nya.

Di sinilah kita sangat perlu memahami, sehingga jangan sampai akhirnya kita menjadi buruk sangka kepada Allah. Yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah keyakinan bahwa Allah SWT pasti memenuhi janji-Nya. Kita perlu memahami jika do'a yang kita mohonkan kepada Allah terkesan tidak dikabul atau belum dikabul atau memang tidak dikabul oleh Allah.

Paling tidak, ada "tiga" kemungkinan. 
Pertama, sebagai ujian keimanan. Allah SWT bermaksud menguji kita ketika kita memohon sesuatu kepada-Nya, apakah kita lebih mencintai Allah ataukah lebih mencintai apa yang kita minta? Dalam QS. Al 'Ankabuut ayat 2-3 Allah SWT berfirman: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta".

Konsekuensinya, tentu setiap orang mu'min sudah harus bersiap-siap untuk diuji keimanannya oleh Allah. Selain itu ada juga ujian lain yang datangnya dari godaan iblis atas izin-Nya. Inilah hal yang sangat mendasar, bahwa ujian bagi seorang mu'min adalah memilih prioritas antara cinta kepada yang dia minta kepada-Nya dengan cinta dia kepada Allah. Bagi seorang mu'min tentu harus lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas cinta dia kepada selain Allah dan Rasul-Nya (QS. Al Baqarah, 2:165; At Taubah, 9:24). Jika do'a kita belum terkabul karena termasuk kemungkinan yang pertama ini yakni sebagai ujian

keimanan, maka selayaknyalah kita bersyukur kepada-Nya karena kita di hadapan-Nya telah diakui sebagai orang yang mu'min. Betapa ruginya seseorang jika mengaku sebagai mu'min tapi oleh Allah SWT tidak mengakuinya sebagaimana orang-orang Baduy yang mengaku beriman kepada Rasulullah tapi ditolak oleh Allah (QS.AIHujuraat, 49:14).

Kedua, Allah SWT memilihkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Disadari atau tidak, terkadang kita masih salah persepsi dalam menyikapi terkabulnya do'a. Dikatakan, terkabul do'a seseorang apabila apa yang dimohonkan dikabulkan oleh Allah, padahal Allah Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Sehingga Allah SWT mengingatkan manusia dalam firman-Nya: "Dan manusia berdo'a untuk kejahatan sebagaimana dia berdo'a untuk kebaikan. Adalah manusia suka tergesa-gesa" (QS. Al Israa': 17:11). Ayat ini mengisyaratkan bahwa tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang berdo'a ingin kekayaan yang melimpah, padahal dengan kekayaan tersebut akan menjerumuskannya ke jurang kenistaan, sebagaimana yang terjadi dalam diri Qarun (QS. Al Qashash, 28:76-78). Juga dalam kisah Tsa'labah di zaman Rasulullah Saw. Karenanya, hendaknya kita memegang prinsip dan keyakinan bahwa selama kita hidup jalan-Nya, pasti yang Allah pilihkan untuk kita adalah yang terbaik.

Ketiga, doa seseorang memang tidak dikabul Allah karena yang bersangkutan tergolong orang yang tidak patut do'anya didengar dan dikabulkan oleh Allah karena terkabulnya do'a hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang sudah dekat dengan Allah (QS. Al Baqarah, 2:186). Agar do'a seseorang dikabul oleh Allah maka dia harus berupaya terlebih dahulu dari status 'Abid menjadi 'ibad. Adapun kriteria orang-orang yang tergolong 'ibaadurrahmaan terdapat dalam QS. Al Furqaan ayat 63-77. Jika kriteria tersebut sudah dapat dipenuhi maka doanya pasti dikabul oleh-Nya. Allah SWT berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu" (QS. Al Mu'min, 40:60), dan di mana pun ia berada, Allah akan selalu dekat dengannya, lebih dekat daripada dia dengan urat lehernya sendiri (QS.Qaaf, 50:16).

Hendaknya kita yakini bahwa Allah Mahatahu tentang diri kita, maka sibukkan diri kita dengan beribadah kepada Allah, perbanyak berzikir dalam arti luas (QS. Ali Imran, 3:190-191) daripada meminta. 
Dalam sebuah hadits Qudsi dinyatakan: "Barangsiapa sibuk berdzikir kepada-Ku sehingga lupa minta-minta, Aku akan berinya sebaik yang Ku-berikan kepada mereka yang minta-minta" 
(HR. Bukhari, Abu Dzaar dan Al Baihaqi), 
Juga dalam hadits lain dinyatakan: "Jika engkau mendekati-Ku sejengkal, Aku mendekatimu sedepa dan bila engkau mendekati-Ku sedepa, Aku dekati engkau sehasta. Dan bila engkau datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadamu berlari"(HR. Ahmad).

Ada beberapa kriteria terkabulnya do'a seseorang seperti yang diisyaratkan dalam QS. Al Baqarah ayat 186. 
Pertama, "Jika ibad-ibad-KU bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat". Pada beberapa ayat yang senada, jika ada pertanyaan demikian maka lanjutan ayat menyatakan: "Qul" (Katakanlah). 
Di sinilah ayat 186 menjadi ayat yang sangat istimewa berbeda dengan bentuk ayat yang lain, seolah-olah manusia bertanya kepada Rasul lalu Rasul mengadu kepada Allah, ketika Allah menjawab tidak melalui Rasul. 
Dalam hal ini Allah SWT menekankan bagi orang-orang yang sudah dekat jika akan berhubungan dengan-Nya tanpa melalui perantara termasuk Rasul.

Kedua. menjadi seorang 'ibad. Menjadi seorang yang hidupnya senantiasa menempuh jalan yang telah ditetapkan-Nya, meninggalkan segala sesuatu yang menjadi larangan-Nya. 
Ketiga, jika seseorang berdoa hanya kepada Allah. 
Dalam ayat 186 Surah Al Baqarah dinyatakan: "Aku memperkanankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku" . Ini mutlak dinyatakan karena dikhawatirkan ada orang yang berdoa kepada selain Allah. Hal ini diingatkan Allah SWT melalui firman-Nya: "Sesungguhnya berhala-hala yang kamu seru selain Allah adalah hamba-hamba serupa kamu. Karena itu serulah mereka, (tentunya) mereka akan memperkenankan permintaanmu jika kamu memang orang-orang yang benar" (QS. AlA'raaf, 7:194). 
Juga dalan firman-Nya: "Jika mereka kamu seru, tidaklah mereka mendengar seruan kamu, dan sekiranya mereka mendengar tidaklah mereka dapat nemperkenankan kamu. Dan pada hari kiamat, mereka akan mengingkari perbuatan kamu (orang-orang) yang mempersekutukan itu. Dan tidak ada yang memberitakan kepadamu (Muhammad) seperti (yang diberitakan) oleh Yang Maha Mengetahui" (QS. Faathir, 35:14). Syarat ini kita harus berhati-hati agar jangan sampai kita berdoa kepada selain Allah, meminta kepada pohon atau kepada arwah si fulan.

Keempat, memenuhi kewajiban terlebih dahulu sebelum meminta. Hendaknya sebelum memohon kepada Allah, penuhi terlebih dahulu hak-hak Allah dan laksanakan yang menjadi kewajiban kita serta beriman kepada Allah agar kita mendapat petunjuk.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Top of Form
Bottom of Form


Minggu, 23 Maret 2014

TIPS MUDAH MENYARING BENTUK-BENTUK IBADAH



1. Kaidah Fiqh:


Al aslu fil ibaadaati al khatri illa binassin, hukum asal dalam semua ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang mensyariatkannya.

Jadi saat akan ibadah lihatlah dalilnya, ada atau tidak. Kalau ada, amalkan. Kalau tidak ada, tinggalkan. Kalau tidak tahu, tanyakan.

 

2. Jangan mengikuti kebanyakan orang.


Rasul sudah mewanti-wanti jangan mengikuti kebanyakan orang,

“Islam muncul dalam keadaan asing (aneh), dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu”. (HR. Muslim 208)

Beruntunglah al-Ghuraba, yaitu orang yang dianggap asing oleh kebanyakan orang karena dia melakukan sunnah & tidak melakukan ibadah yang tidak sesuai sunnah. Jadi terlihat seperti orang aneh, padahal yang aneh itu mereka.

Nabi mengatakan Orang asing/orang aneh : “Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku (Sunnah Rasulullah Saw) sesudah dirusak oleh manusia”. (HR.Tirmidzi 2630)

Ibadah yang banyak orang lakukan itu bukan dalil. Jadi kita jangan ikut-ikutan, tapi ikuti dalil saja walaupun hanya kita sendirian.


3. Ikhtiati


Artinya berhati-hati, maksudnya dalam ibadah kita lebih mendahulukan pendapat-pendapat yang melarang sebagai bentuk dari kehati-hatian kita terhadap ibadah. Insya Allah kita tidak akan kekurangan ibadah apabila kita berhati-hati.

Karena kalau tidak dikerjakan tidak berdosa tapi kalau dikerjakan maka konsekwensinya kita melakukan ibadah yang tidak sesuai sunnah, bukan saja ibadah tersebut tertolak tapi malah berdosa.

Lakukan ibadah yang jelas-jelas sunnah saja.


4. Kadang menggunakan logika juga bisa, masuk akal atau tidak


Seperti adzankan jenazah saat dimakamkan, hal ini tidak masuk akal. Mengajak sholat kepada orang yang sudah tidak bisa shalat atau kepada bayi yang belum bisa shalat.

Beberapa waktu yang lalu pernah kita kaji hadits mengadzankan jenazah dan bayi ternyata lemah bahkan palsu. Semoga bermanfaat... 

 

Salam !

copas oleh www.berdoalah.com dari KTQS Daarul Arqom Bandung